Wednesday, February 22, 2012

Catatan GM Radar Tuba Helmi Jaya Terharu, Mance Teteskan air Mata

  Helmi Jaya
Terpujilah wahai engkau, Ibu Bapak guru..
Namamu akan selalu hidup, dalam sanubariku..
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku...
Sebagai prasasti terimakasihku tuk pengabdianmu…
 

Saat melantunkan bait lagu ‘Hymne Guru’, orang nomor satu di Kabupaten Tulangbawang (Tuba) meneteskan air mata. Mengapa bisa demikian? Berikut catatan General Manager (GM) Radar Tuba Helmi Jaya, saat mengikuti rapat koordinasi (rakor) di SMPN I Meraksa Aji.

MATA Bupati Tulangbawang DR Abdurachman Sarbini Natamenggala SH, MH, MM, tampak berkaca-kaca, saat mengikuti bait demi bait lagu ‘Hymne Guru’, yang dibawakan para pelajar SMPN 1 Meraksa Aji, Tulangbawang, saat menghadiri rapat koordinasi dan evaluasi kerja, yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kabupaten Tulangbawang.  Bahkan, Mance, sapaan akrab Bupati Tuba ini, sampai berulangkali mengusap air matanya yang terus menetes. 

Mance mengungkapkan penyebab dirinya hingga meneteskan air mata, saat mendengar dan ikut melantunkan lagu tersebut. "Jujur, di dalam hati sanubari, saya merasakan kesedihan yang begitu mendalam. Sebab orang tua saya, ibu saya adalah seorang guru,” tutur Mance memulai kisahnya. Ketika wanita yang melahirkannya itu berpulang ke Rahmatullah karena mengidap sakit paru-paru, dokter yang menanganinya mengungkapkan jika paru-paru ibunya hanya tinggal sekitar 2 cm, akibat digerogoti penyakit yang disebabkan debu kapur saat pahlawan tanpa tanda jasa itu mengajar.

“Bila mengingat itu, bukan berarti saya mengecilkan arti seorang guru. Justru sebaliknya, betapa mulianya tugas seorang guru,” tukas Bupati Tuba dua periode itu. "Kalau kita pikir, dari segi gaji seorang guru memang tidak memadai. Bahkan bisa dikatakan kurang, untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kita tahu berapa gaji guru,” ujar Mance. 

Berkaca dari pengalaman hidupnya itu, Mance meyakinkan kepada para guru yang hadir dalam kegiatan itu. “Pokoknya bapak ibu guru tenang saja. Asalkan kita ikhlas dalam mengabdi, Insya Allah semua pasti ada jalannya,” kata bupati. “Kalau mau saya, saya tidak setuju dengan gaji ke tiga belas. Tetapi khusus untuk gaji guru, diberikan antara Rp3,5 juta hingga Rp5 juta, disesuaikan dengan golongannya. Logikanya, gaji ketiga belas hanya sekali saja dalam satu tahun," sergah Mance.

Sebagai bukti kepeduliannya, teriknya matahari yang memanggang arena pertemuan, tidak menyurutkan sang bupati untuk berbaur dengan para undangan, yang terdiri dari dewan guru dan wali murid. Mance juga menyempatkan diri mendendangkan lagu’ Tanoh Menggalo’ dan ‘Sewu Kuto’. berduet dengan putrinya, Rika Utami Putri, yang saat ini menjabat salah satu kepala bidang di Dinas Pendidikan Tulangbawang.

Jika saat ini saya merasa sangat bersimpati dengan Bupati Tulangbawang Abdurachman Sarbini, itu karena saya memiliki hati nurani. Selama beberapa bulan saya mengenal sang bupati, melalui media yang saya nakhodai ini, RADAR TUBA. Media inilah yang mengantarkan saya bisa bertatap muka langsung dengan sang bupati.

Pada tulisan saya beberapa waktu lalu, tentang Bupati Tuba yang kala itu melaksanakan sholat Jumat. Pada saat itu saya mengatakan, saya tidak kenal. Namun untuk saat ini sudah beda. Boleh saya katakan, saya mulai mengenal beliau (Mance) lebih dekat. Jujur, jika saya mempersembahkan tulisan ini, ada yang mengatakan karena ada hubungan, sudah ada pesanan, atau ada embel-embel lain, dengan tegas saya katakana, tidak. 

Saya dengan sang bupati, tidak ada kedekatan dan tidak ada perjanjian apapun. Bahkan tidak ada keterikatan apa pun. Tulisan ini murni saya persembahkan berdasarkan hati nurani dan kekaguman saya pribadi kepada sang bupati yang begitu fenomenal dan sangat peduli dengan masyarakatnya. Rasanya, tidak munafik jika saya mengatakan apa adanya tentang Bupati Tulangbawang ini.

Menurut saya, tidak ada bupati di jagat Indonesia saat ini yang seperti beliau. Tulus dalam menjalankan tugas. Jika dalam menjalankan tugas ada kekeliruan atau timbul masalah, kita bisa maklum, karena pada prinsipnya manusia di dunia ini tidak ada yang sempurna. Jika kita kembali lagi ke awal, jika seluruh pemimpin mempunyai hati nurani tulus, maka akan aman dan sejahteralah dunia ini. Wassalam… (*)
Share this article now on :